Telat seminggu. Yap, postingan ini terlambat seminggu, karena postingan ini penulis buat untuk mengomentari kejadian yang sudah lewat seminggu yg lalu. Hari Sabtu, tanggal 3.
Mungkin tulisan ini nantinya agak mengganggu, maka sebelumnya penulis meminta maaf terlebih dahulu dan juga menyertakan DISCLAIMER: tulisan ini dibuat tanpa ada maksud menjelek2an pihak tertentu, dan penulis berharap siapapun yg hendak mengutip sebagian atau seluruh isi tulisan ini meminta izin terlebih dahulu agar tidak disalahgunakan [sok penting nih..]
Oke, masuk ke bahasannya-sesuai ama judul.. hari Sabtu kemarin, tanggal 3, berlangsunglah perhelatan akbar-yah, seengganya akbar bagi rekan2 sealmamater-di kota Bandung, Jakarta, dan kota2 besar lainnya [pusatnya sih harusnya di Bandung]. Perhelatan akbar itu dikasih nama “Pemilu IA-ITB” dan termasuk juga kongres IA ITB di dalamnya. Nah, si perhelatan ini tujuan utamanya [AFAIK, CMIIW please] untuk mencari pengganti dari Pak Hatta Rajasa sebagai mensesneg/menhub Ketua IA-ITB [maaf Pak..]
Lah terus kenapa? Biasa aja tuh?
Yah memang biasa, tapi saat pemilu kemarin, penulis [yang Alhamdulillah sudah lulus di awal tahun ini-dan sekarang adalah pengalaman pemilu IA pertama] memutuskan untuk tidak ikut memilih ketua IA. Kenapa? Well, karena penulis merasa ada beberapa hal yg kurang sreg dengan pemilu kemarin.[pemilu sebelumnya penulis belum tahu dan belum berkepentingan apa2, jadi no comment tentang itu]
Sebagai pemilu-nya putra-putri terbaik bangsa, penulis merasa ada beberapa-ehem-fakta yang membuat kekurangsreg-an itu muncul..apa aja?
1. kurang informasi. Okelah, penulis tau kalo calon ketua IA ITB ada lima orang, tapi selain itu? Penulis rasa dari tim sukses caketumnya agak kurang dalam menyampaikan informasi.[terlepas dari kegiatan kampanye bersama yg diadakan oleh panpel-yang penulis yakin sudah diusahakan untuk mengena ke banyak pihak] Well, informasi yg penulis maksud disini ya info yg penulis harapkan, seperti visi-misi, program, dsj.. bukan sekadar nama atau popularity race
2. isi kampanye yang kurang sesuai. Berbeda dengan pemilu legislatif, pilpres atau pilkada yang notabene targetnya adalah masyarakat umum, target dari pemilu IA ITB ini adalah alumni ITB yang-konon katanya-cerdas2. Dengan calon pemilih yg tergolong cerdas, penulis berharap kampanye yg diberikan juga kampanye yg sesuai dengan target. Maksud penulis bukan sekadar mengadakan kegiatan, meluncurkan program, atau kampanye2 penokohan.. penulis lebih berharap kampanye-nya menjelaskan kenapa harus memilih salahsatu calon, dan bukan calon yg lain [tanpa menjelek2an calon yg lain tentunya]. Toh kalo dipikir2, bukankah lebih mudah untuk mengintegrasikan program kelima calon [misal, setiap calon nantinya jadi pengurus IA, membawahi satu departemen yg dikoordinir oleh ketua terpilih, dan mengembangkan fokus bidang yg dijanjikan mau dikembangkan selama kampanye dengan dana yg dihabiskan untuk kampanye] dibanding setiap calon membawa program yg relatif tidak terlalu berbeda [dan menghabiskan uang untuk kampanye]
3. mahal. Mungkin ini alasan utama penulis kenapa penulis tidak berminat mengikuti pemilu IA ITB. Mahal. Bukan berarti penulis harus merogoh kocek untuk mencoblos, bukan itu. Tapi total keseluruhan biaya yang dikeluarkan untuk event kongres dan pemilu itu loh, yg mahal. Memang sih acaranya berlangsung meriah, tapi perlukah segitu mahalnya? Padahal, seminggu sebelumnya, baru aja di sekitar ITB ada kejadian tidak mengenakkan, yaitu penggusuran pedagang di jalan tamansari. Dan penulis yakin [karena penulis sering berbelanja di sana, dan kebetulan menjilid draft TA di sana pula] pastinya sebagian dari alumni ITB ini pernah merasakan jasa para pedagang tersebut [so, bukankah uangnya lebih baik untuk membantu para pedagang tersebut relokasi kan]
4. belum merasakan manfaat. Alasan yang terakhir adalah alasan yg paling personal. Mungkin karena penulis belumlama lulus, dan selama menjadi mahasiswa kurang bersentuhan dengan ikatan alumni, maka penulis belum merasakan adanya manfaat nyata dari IA ITB buat masyarakat luas, makanya penulis memutuskan untuk melakukan observasi dulu terhadap si IA ITB ini, sebelum-mungkin-berpartisipasi di pemilu berikutnya
Tetapi bagaimanapun juga sikap penulis terhadap pemilu IA-ITB kali ini, penulis tetap ingin mengucapkan selamat kepada Bapak Sumaryanto Widayatin sebagai ketua IA ITB terpilih periode 2011-2015. Semoga di kepengurusan mendatang bisa meningkatkan IA-ITB sehingga semua alumni ITB-dan tentunya, masyarakat luas-bisa merasakan manfaatnya.
Next post: mari saling mengingatkan, bukan menghinakan

