Counting the days, today is my third day of walking between my house and my campus, either halfway or thorough. this new-yet old-habit, actually triggered by my friend, who also walk from his house to campus, and also by my needs to do simple yet effective daily exercise, which I needed to keep my body fit-well, I haven’t able to make a jogging schedule yet.
This walking habit which I just re-started it, actually was my old habit. Ever since my 4th year in elementary school, I’ve been attached to walking from and towards my school, although only halfway-between the first-half or latter-half of the distance. During that time, my main purpose of walking was to save money, because i could save up to half my daily allowance if I walk home, so I’d be able to buy some toys I desired. But after few months, when I was less interested in toys, this habit-amazingly-stil continues (but the money I supposed to save ended up spent on snack or food on street vendor ^^), though it became less and less until it finally stopped.
mungkin ada orang2 yang bertanya, apa sih yang menarik dari berjalan kaki? jarak jauh lagi.. well, buat saya, dari dulu jalan kaki itu menyenangkan karena saya bisa menikmati keindahan yang masih tersisa di sepanjang jalan yang saya tempuh. berbeda dengan naik angkot atau motor, atau bahkan sepeda sekalipun, dengan jalan kaki kita benar2 bisa memilih rute sesuka hari. bisa lewat jalan tikus, tangga, sampe halaman rumah orang yang ga kita kenal. dan buat saya, yang paling menarik dari berjalan kaki adalah bagaimana saya bisa menikmati kesunyian di sekitar saya, menikmati perasaan “sendiri” dan terasing dari dunia sekitar..
Nah sekarang, karena saya mencoba untuk membiasakan diri lagi walk-to-campus (okay, bukan bike-to-campus kaya yang sekarang lagi populer), saya mencoba memetakan rute perjalanan saya dari rumah ke kampus, dan saya mendapat gambaran kasar untuk 3 rute perjalanan (walau untuk rute jalan pulang sih tetep pakai satu rute saja). rute ini saya break-down berdasarkan rute angkot yang biasa saya pakai.
rute pertama: sarijadi[rumah saya di sarijadi]-gerlong-setiabudi-baksil-Ganesha,
rute kedua: sarijadi-setrasari-setiabudi-baksil-Ganesha,
dan rute ketiga: sarijadi-marnat-pasteur-cihampelas-wastukencana/pelesiran-ganesha.
I’ve tried firsthalf of third route before, and I think it’s very uncomfortable to walk with, because if I walk in midday [and I DO walk in midday] there are too many pollutions in the air, and also there’s not enough trees [and shades], so I suffer from the heat. So I won’t choose third route.
rute pertama saya coba di hari pertama, dua hari yang lalu. rute pertama ini sama dengan rute angkot saya pulang, dan perjalanannya jauh lebih menyenangkan dibanding rute ketiga. konturnya juga menarik, separuh pertama hampir sepenuhnya menanjak, sementara separuh kedua hampir sepenuhnya menurun.. jadi mirip peribahasa “bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian” dan cocok buat olahraga. waktu yang saya perlu juga tidak terlalu lama, sekitar 100 menit untuk mencapai kampus..
kemarin, saya mencoba rute kedua,,rute kedua ini agak berbeda dibanding rute pertama dan ketiga, yaitu rute ini diambil bukan berdasarkan jalur angkot [ngga dijamin ada angkotnya], tapi rute ini dipilih karena emang jalurnya lebih motong [angkot kan muter2] dan lebih cepet.. dan kemarin saya merasakan hasilnya.. lewat rute kedua, saya bisa mencapai kampus hanya dalam waktu 60 menit [65 menit plus foto2] dan jalannya ga terlalu nanjak-nurun, dan pepohonannya cukup rindang [kemungkinan besar dipilih jadi rute jalan berangkat yang permanen] well, so far I could find only one problem from second route, that its pass through my mom’s office, and I bet my mom wouldn’t like to find me walking to campus..
terlepas dari rute pertama atau kedua yang saya pilih [oke, rute ketiga udah dicoret] kedua rute itu ketemu di daerah yang sama. setiabudi. dari jalan setiabudi ini nantinya saya akan terus turun ke arah kampus, jadi tidak terlalu melelahkan.. Nah, di setiabudi ini, tepatnya di daerah depan rumah makan D’Cost, saya menyengajakan untuk lewat suatu jalan kecil, yang dulu pernah ditunjukkan oleh teman saya Berry, yang di sana saya bisa ngerasain secuil potongan Bandung yang masih sunyi, asri, dan-walau sedikit-alami, meski terletak di tengah kota.
Di jalan ini, saya sengaja berdiam sesaat, menyempatkan foto, dan menikmati heningnya kota Bandung tanpa suara buatan manusia, bukan suara kendaraan atau alat musik atau teriakan atau bahkan radio, tapi suara alam, burung, jangkrik, dan dedaunan yang tertiup angin. Sesaat itu, saya benar2 menikmati perjalanan saya, dan alasan saya untuk berjalan kaki dari rumah ke kampus.
karena nature manusia yang memang tidak pernah puas, saya juga sama.. saya masih akan mencoba mencari rute2 lain untuk perjalanan saya dari rumah ke kampus, atau sebaliknya.. karena masih banyak kemungkinan, pengalaman, keindahan dan mungkin keajaiban yang bisa saya temui di rute2 lainnya.. So, let’s enjoy our walk

