Membosankan!

Part 1: bosan

Bosan dan membosankan. satu kata yang akhir-akhir ini terngiang-ngiang di kepala. Bosan karena memang kenyataannya minggu-minggu ini adalah minggu pas saya bener2 ngga ada kerjaan di kantor. Yah, daripada terus-terusan nganggur lebih baik melanjutkan nge-blog saja, sepertinya lebih bermanfaat buat saya

Sebenarnya, kalaupun di kantor baru ini saya udah dikasih kerjaan, saya masih yakin saya akan cepat ngerasa bosan.. kenapa? Karena di kantor lama kerjaan saya bisa sangat banyak dalam satu hari, ditambah minim manpower yang somehow menjadi challenge tersendiri. Sedangkan di kantor baru, berhubung manpower-nya banyak, sepertinya porsi kerjaan saya akan jauh lebih sedikit.

Dan entah kenapa, prospek kerjaan yg “hanya” sedikit, sepertinya akan membuat saya cepat bosan.

Saya jadi ingat cerita seorang teman anak sipil, ketika hadir di acara makan malam alumni sipil (smart dinner istilahnya) yang berkecimpung di bidang industry yang sama. Di acara tersebut, ada satu alumni yang jadi pembicara (saat ini bekerja di salah satu perusahaan multinasional dengan posisi lumayan tinggi) yang bercerita bagaimana dia mengalami masalah unik dengan sesama alumni ITB bawahannya di kantor terkait tugas yg diberikan, dan dalam suatu kesempatan, dia mempertanyakan sebabnya—ga tanggung2—ke rektor

Kata teman saya, kurang lebih ceritanya seperti ini:

Alumni (A): “pak Rektor, kualitas lulusan ITB sekarang kok menurun ya? Di kantor saya ada alumni ITB tapi kerjanya kurang memuaskan nih..”
Rektor (R):” kok bisa kerjaannya kurang memuaskan? Memangnya dikasih tugas seperti apa?”
A: “begini, saya kasih satu tugas yang relatif mudah, tapi selesainya malah lama..”
R: “Oh.. kamu salah,, anak ITB itu ngga bisa dikasih tugas hanya satu, apalagi kalo mudah.. coba kamu kasih tugas sekaligus banyak, lalu lihat hasilnya…”

Dan setelah diberitahu rektor, maka sang alumni pun memberi tugas sekaligus banyak ke anak buahnya yg sama2 alumni ITB tadi.. hasilnya? Memuaskan

Kayanya memang anak ITB itu ngga cocok sama kerjaan yang mudah dan sedikit ya?

Part 2: membosankan

Membosankan. Siapa yang membosankan? Saya. Tulisan saya. Gaya menulis saya.

Sepertinya, postingan saya cukup membosankan, bahkan saya yang nulisnya aja ngerasa seperti itu. Mungkin disebabkan bahasan yang kurang, atau bisa jadi karena gaya menulis saya yang seringnya terkesan menggurui, menganggap pandangan saya adalah pandangan orang kebanyakan, padahal tidak.

Sepertinya begitu. Setelah saya baca ulang beberapa postingan2 yg dulu, ada beberapa yang menurut saya membosankan setengah mati, dan tampak perlu dihapus (atau diedit)

Yah, seenggaknya saya udah nemu alasan kenapa kemarin2 saya malas bikin postingan baru, karena postingan saya membosankan, dan berniat buat ngepost lagi, ngelawan rasa malas dengan cara ngilangin sumber malas. Mudah2an postingan ke depannya bisa lebih ngga membosankan, ngga masalah kalo subjektif juga, toh postingan saya ya sudut pandang saya, ngga usah disamakan dengan orang lain, yg penting bisa dipertanggungjawabkan.. ya toh?

Advertisements

Silakan tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s