3 Tahun di Jakarta

Alhamdulillah, hari ini tepat tiga tahun sejak pertama kali pindah (mungkin) secara permanen dari Bandung, kota yang sudah jadi tempat tinggal saya dari sejak lahir, untuk menjadi ‘warga Jakarta’ demi mencari rezeki yang ternyata memang harus dicari di kota ini. Jika diingat-ingat, sewaktu dulu di hari-hari terakhir di Bandung, sempat terlintas rasa galau yang bikin berat banget untuk pergi, dan mungkin juga rasa takut karena akan memasuki unknown world, dan rasanya jauh dari teman-teman terdekat (beberapa teman terdekat saya bernasib mencari rezeki di overseas).

Ketika pertama kali tiba di Jakarta, ada satu kesan yang paling membekas bagi saya tentang warga Jakarta: Individualistik, alias selfish. Sering saya melihat orang2 fokus memikirkan kebutuhan dirinya sendiri, dan dengan sengaja mengabaikan hak orang lain (yang juga memikirkan diri sendiri, dan sedang mengabaikan hak orang yg lain lagi). Kesan Individualistik yang saya rasakan waktu itu membuat saya men-stereotype orang Jakarta sebagai orang2 yang selfish dan egois (pada kenyataannya tidak semua warga Jakarta seperti itu, saya beruntung bisa mengenal seseorang yang sangat selfless, yang juga seorang warga Jakarta).

Saya tidak suka dengan apa yang saya lihat dan rasakan. I resent it. Dan ketidaksukaan saya membuat saya memasang janji (lebih ke tantangan sebenarnya) terhadap diri sendiri:
“Saya orang Bandung. Di Bandung saya diajarkan untuk ramah dan tidak mengambil hak orang lain. Saya tidak ingin menjadi seperti orang Jakarta. Berapa lama pun saya tinggal di sini, saya akan tetap jadi orang Bandung.”
(Walapupun sebenarnya istilah ‘orang Bandung’ berasal dari stereotyping juga sih)

Hari ini, tiga tahun sudah saya berada di Jakarta, menjalani rutinitas sehari-hari bersama jutaan warga ibukota lainnya dalam mencari rezeki. Berdesak-desakan di metromini yang bejubel, berjalan menyebrangi jalan raya dan pedestrian yang terkadang tidak layak pakai, berpenuh-penuhan di bus transjakarta, menunggu KRL yg sekarang sudah jauh lebih baik pelayanannya. Saya sadar saya tidak selalu memasang wajah ramah. Ada kalanya wajah saya berubah masam dengan gurat-gurat emosi ketika melihat orang yang seenaknya merokok di metromini, mobil yang nge-gas di zebra cross, antrian yang ngga jelas mana depan dan mana ujung, dan banyak lagi.

Saya sadar selama 3 tahun di sini pasti ada hak orang yang saya langgar, baik sengaja ataupun tidak (terutama tetangga kosan, soalnya saya sering berisik pas jam-nya mereka tidur–kebanyakan gara2 nyenggol barang di kamar), dan saya masih belum bisa sepenuhnya jadi ‘orang baik’.
Tapi sampai hari ini, saya masih ingat kok sama tantangan saya dulu, dan masih tetap berusaha memenuhinya. Saya orang Bandung, dan ingin tetap jadi orang Bandung, berapa lamapun saya tinggal di kota ini, saya tidak ingin menjadi orang Jakarta, saya orang Bandung.

Advertisements

One thought on “3 Tahun di Jakarta

  1. yah begitulah jakarta, memang individualistik, namun satu yang tetap harus menjadi pegangan, jika kita berbuat baik sama orang, tidak menyinggung perkataan orang lain, tidak mengganggu privasi orang lain, maka orang lain juga akan baik sama kita. di mana bumi dipijak disitu kita harus hormati orang-orangnya

Silakan tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s