Idea for Share: the story behind it

How important is an idea?

Often, to fill our spare times, we hold a chatter or discussion with our friend or peer: in office, market, college, even social media (for me, mostly via messaging app). Its contents are various, could be about football, politics, work-related, family, relationship, technology, daily issues, or sometimes about society problems. During this discussion and chatter, especially regarding social/tech issues or problem, sometimes each of us would like to try to figure out the solutions for the issue, or just try to find something new. Sometimes we came up with an idea which is deemed ‘quite good’, ‘beneficial’, and also ‘profitable’, and sometimes we just end up with nothing at all.

I’ve once heard that there is a phrase “A good idea is only as good as its execution.” Which means a single idea–only an idea–without any plans or means to follow up, will only end up as an idea–or just what my friends like to say: wacana. Therefore every good idea, requires an equally good follow-up, or even better one, for it to be worthwhile (or to be realized as a business: startup company or such)

More than once, during discussion with my friends, we realized that some of our idea (which many still exist only on idea-phase) might become something both beneficial and profitable if it could be neatly executed, and some ideas are very tempting to be pursued. But then I’ve stumbled upon this question: What if the idea that we came up with is something which is far outside our expertise? Shall we continue to pursue it?

There is one famous quote from Dhirubhai Ambani in regards to pursuit of ambition and dreams: “If you don’t build your dream, someone else will hire you to help them to build theirs.”

In the rise of creative industry, alongside with people ever-increase appreciation of creative process and idea making, numerous startup business, which many were originated from simple idea, has been developed (and the numbers still growing) and each of them trying to provide their own unique product/solution (many are focusing in IT-related or advanced tech field), and some had already taste the fruition of their longtime effort (achieving either success or recognition) thus further encouraging many other to also pursue and incorporate their idea into startup company or such.

However, developing a business/company based on our idea isn’t an easy feat, the idea development for startup itself is already a challenge (harsh competition between our solution and others, market struggles and public acceptance), the business making process is though (finding team member, co-founder, venture, and potential market), and the psychological burden due the risk it carries is overwhelming. It requires both determination/persistence and good observation to know when to give up.

Key to successFor the young and rash one, creating startup business could be a single leap into live-or-die moment. And the question is, does it really worth it? For some, it does.

For me, there is one very interesting quotes from Harry Truman which I liked:

“It is amazing what you can accomplish, if you do not care who gets the credit.”

I believe that we ought to put accomplishment or achievement before success. The pursuit of accomplishment must be based on the benefit it could bring to the human race, but it mustn’t bound to the success of an individual. This pursuit shall grow from just a mere ambition toward success, into a mission to improving the quality of human life. For me, this is the value of creativity which worth striving for.

Recently, Tesla Motors, one of major electric vehicles company founded by Elon Musk also decides to make their patent ‘public’, in accordance with the very same value: to become a part in a mission for bettering human life (in their case, by accelerating the advent of sustainable transport)

That’s why I prefer to share and discuss my ideas (some, I think, are quite good with decent planning–and some are just plain absurd), with anyone who is willing and might be able to make it, for my wish is that the idea comes into fruition and could be beneficial for many people, even if it success will belong to somebody else. Hence, here comes new category in my blog: Idea for Share

3 Tahun di Jakarta

Alhamdulillah, hari ini tepat tiga tahun sejak pertama kali pindah (mungkin) secara permanen dari Bandung, kota yang sudah jadi tempat tinggal saya dari sejak lahir, untuk menjadi ‘warga Jakarta’ demi mencari rezeki yang ternyata memang harus dicari di kota ini. Jika diingat-ingat, sewaktu dulu di hari-hari terakhir di Bandung, sempat terlintas rasa galau yang bikin berat banget untuk pergi, dan mungkin juga rasa takut karena akan memasuki unknown world, dan rasanya jauh dari teman-teman terdekat (beberapa teman terdekat saya bernasib mencari rezeki di overseas).

Ketika pertama kali tiba di Jakarta, ada satu kesan yang paling membekas bagi saya tentang warga Jakarta: Individualistik, alias selfish. Sering saya melihat orang2 fokus memikirkan kebutuhan dirinya sendiri, dan dengan sengaja mengabaikan hak orang lain (yang juga memikirkan diri sendiri, dan sedang mengabaikan hak orang yg lain lagi). Kesan Individualistik yang saya rasakan waktu itu membuat saya men-stereotype orang Jakarta sebagai orang2 yang selfish dan egois (pada kenyataannya tidak semua warga Jakarta seperti itu, saya beruntung bisa mengenal seseorang yang sangat selfless, yang juga seorang warga Jakarta).

Saya tidak suka dengan apa yang saya lihat dan rasakan. I resent it. Dan ketidaksukaan saya membuat saya memasang janji (lebih ke tantangan sebenarnya) terhadap diri sendiri:
“Saya orang Bandung. Di Bandung saya diajarkan untuk ramah dan tidak mengambil hak orang lain. Saya tidak ingin menjadi seperti orang Jakarta. Berapa lama pun saya tinggal di sini, saya akan tetap jadi orang Bandung.”
(Walapupun sebenarnya istilah ‘orang Bandung’ berasal dari stereotyping juga sih)

Hari ini, tiga tahun sudah saya berada di Jakarta, menjalani rutinitas sehari-hari bersama jutaan warga ibukota lainnya dalam mencari rezeki. Berdesak-desakan di metromini yang bejubel, berjalan menyebrangi jalan raya dan pedestrian yang terkadang tidak layak pakai, berpenuh-penuhan di bus transjakarta, menunggu KRL yg sekarang sudah jauh lebih baik pelayanannya. Saya sadar saya tidak selalu memasang wajah ramah. Ada kalanya wajah saya berubah masam dengan gurat-gurat emosi ketika melihat orang yang seenaknya merokok di metromini, mobil yang nge-gas di zebra cross, antrian yang ngga jelas mana depan dan mana ujung, dan banyak lagi.

Saya sadar selama 3 tahun di sini pasti ada hak orang yang saya langgar, baik sengaja ataupun tidak (terutama tetangga kosan, soalnya saya sering berisik pas jam-nya mereka tidur–kebanyakan gara2 nyenggol barang di kamar), dan saya masih belum bisa sepenuhnya jadi ‘orang baik’.
Tapi sampai hari ini, saya masih ingat kok sama tantangan saya dulu, dan masih tetap berusaha memenuhinya. Saya orang Bandung, dan ingin tetap jadi orang Bandung, berapa lamapun saya tinggal di kota ini, saya tidak ingin menjadi orang Jakarta, saya orang Bandung.

Bukan Resolusi 2014

A Shame. Sedikit (atau mungkin banyak) memalukan, that one of my last year resolution, which was to write more often, more constantly in this blog with a better quality of post, was end up in a wreck. Bukannya karena ga nemu bahan tulisan ataupun mentok dalam nyari sumber, it was the opposite. I was too eager in looking for source (for many topic which I should have written) and ended up caught up in reading and reading, instead of writing it down (in some cases, the above mentioned topic had been written and repeated too many times by media that I thought writing about such would only adding oil to already-dying flames).

Begitu juga dengan ‘experiences’ dan traveling stories. Last year I had enjoyed traveling to many places and gathering many experiences, which always makes me desire for more, including participating in a few of open trip (such excitement of traveling with completely new companion it had) and had been trying to write it down, but in the end none of it managed to completely written up in this blog.

Ada banyak alasan yg bisa disampaikan, tapi pada akhirnya semua cuma akan jadi excuse atau justifikasi. So it is better to move on and make all of it as a lesson for me to be better. Walaupun if I had to admit, it is true that in my previous year life seems frozen for me, it mustn’t stay as it was. It’s time to leave this spot, not just spending time, but to really live again (well, one year is more than sufficient to mend a broken heart I suppose) and embrace these upcoming year.

So this year, waktunya kembali tumbuh dan berkarya-lebih baik dari sebelumnya. Waktunya memperbaiki kekurangan2 yang masih banyak, mempelajari ilmu2 yang masih belum terjamah, memperdalam pengetahuan yang sudah dikenal, dan memberi kontribusi lebih bagi orang sekitar. It’s time for the change. Big change. Because by the end of this year, Indonesia will also experience great change, and each of us Indonesian shall be prepared.


Menurut kamus besar bahasa Indonesia, berbenah (ber-benah) artinya berkemas, memberes-bereskan, merapikan. Atau bisa juga menggunakan imbuhan me-i jadi membenahi, dengan arti yg sama, termasuk juga mengurus. Merapikan dan mengurus, kayanya itu makna yang cocok.

Setelah lama menelantarkan  blog ini, yg alasan utamanya—tidak bisa dipungkiri—karena malas mengurus, sekarang2 lagi memantapkan diri untuk kembali mengurus blog, atau sesuai judul, berbenah blog; mengganti blog theme, merapikan link, memasukkan image, dan yg paling penting: menulis lagi.

Dipikir2 sebenarnya blog ini terlantar bukan karena malas nulis sih—toh masih rajin twitteran dan kadang sok2 kultwit—tapi selalu mentok kalo mau merampungkan satu postingan. Ada banyak ide, banyak bahan, tapi merasa canggung untuk dijadikan postingan blog (bingung mau milih gaya penulisan yg seperti apa) dan akhirnya lari lagi ke twitter. Baru sekarang2 merasa 140 karakter di twitter terasa benar2 kurang (belum lagi link untuk source dan foto), jadi kembali menulis (walaupun masih yakin kalo postingannya terlalu pendek untuk dijadikan postingan blog).

Sewaktu kemarin mulai berbenah blog, ada beberapa hal yg bikin sedih, salah satunya ketika harus menghapus link dari blog teman2 yg sudah mati (beberapa terlantar total, beberapa benar2 sudah mati link-nya) dan juga ketika link blog lama juga sudah rata dengan tanah (sudah tahu dari lama sih, tapi tetap sedih karena tulisan2 sebelumnya yg ada di sana belum sempat terselamatkan). But life must go on, yg sudah hilang tidak boleh diratapi, yg akan datang harus diusahakan, benar kan?

Dan sepertinya bukan cuma blog aja yg perlu dibenahi, kayanya ada beberapa habit yg harus ikut jadi sasaran berbenah juga. Demi hidup yang lebih baik, insyaAllah


Part 1: bosan

Bosan dan membosankan. satu kata yang akhir-akhir ini terngiang-ngiang di kepala. Bosan karena memang kenyataannya minggu-minggu ini adalah minggu pas saya bener2 ngga ada kerjaan di kantor. Yah, daripada terus-terusan nganggur lebih baik melanjutkan nge-blog saja, sepertinya lebih bermanfaat buat saya

Sebenarnya, kalaupun di kantor baru ini saya udah dikasih kerjaan, saya masih yakin saya akan cepat ngerasa bosan.. kenapa? Karena di kantor lama kerjaan saya bisa sangat banyak dalam satu hari, ditambah minim manpower yang somehow menjadi challenge tersendiri. Sedangkan di kantor baru, berhubung manpower-nya banyak, sepertinya porsi kerjaan saya akan jauh lebih sedikit.

Dan entah kenapa, prospek kerjaan yg “hanya” sedikit, sepertinya akan membuat saya cepat bosan.

Saya jadi ingat cerita seorang teman anak sipil, ketika hadir di acara makan malam alumni sipil (smart dinner istilahnya) yang berkecimpung di bidang industry yang sama. Di acara tersebut, ada satu alumni yang jadi pembicara (saat ini bekerja di salah satu perusahaan multinasional dengan posisi lumayan tinggi) yang bercerita bagaimana dia mengalami masalah unik dengan sesama alumni ITB bawahannya di kantor terkait tugas yg diberikan, dan dalam suatu kesempatan, dia mempertanyakan sebabnya—ga tanggung2—ke rektor

Kata teman saya, kurang lebih ceritanya seperti ini:

Alumni (A): “pak Rektor, kualitas lulusan ITB sekarang kok menurun ya? Di kantor saya ada alumni ITB tapi kerjanya kurang memuaskan nih..”
Rektor (R):” kok bisa kerjaannya kurang memuaskan? Memangnya dikasih tugas seperti apa?”
A: “begini, saya kasih satu tugas yang relatif mudah, tapi selesainya malah lama..”
R: “Oh.. kamu salah,, anak ITB itu ngga bisa dikasih tugas hanya satu, apalagi kalo mudah.. coba kamu kasih tugas sekaligus banyak, lalu lihat hasilnya…”

Dan setelah diberitahu rektor, maka sang alumni pun memberi tugas sekaligus banyak ke anak buahnya yg sama2 alumni ITB tadi.. hasilnya? Memuaskan

Kayanya memang anak ITB itu ngga cocok sama kerjaan yang mudah dan sedikit ya?

Part 2: membosankan

Membosankan. Siapa yang membosankan? Saya. Tulisan saya. Gaya menulis saya.

Sepertinya, postingan saya cukup membosankan, bahkan saya yang nulisnya aja ngerasa seperti itu. Mungkin disebabkan bahasan yang kurang, atau bisa jadi karena gaya menulis saya yang seringnya terkesan menggurui, menganggap pandangan saya adalah pandangan orang kebanyakan, padahal tidak.

Sepertinya begitu. Setelah saya baca ulang beberapa postingan2 yg dulu, ada beberapa yang menurut saya membosankan setengah mati, dan tampak perlu dihapus (atau diedit)

Yah, seenggaknya saya udah nemu alasan kenapa kemarin2 saya malas bikin postingan baru, karena postingan saya membosankan, dan berniat buat ngepost lagi, ngelawan rasa malas dengan cara ngilangin sumber malas. Mudah2an postingan ke depannya bisa lebih ngga membosankan, ngga masalah kalo subjektif juga, toh postingan saya ya sudut pandang saya, ngga usah disamakan dengan orang lain, yg penting bisa dipertanggungjawabkan.. ya toh?

Just a small thought

Intermezzo: a bit reminder from and for myself

Do not hate anyone. Hate what they do that hurts you and others. For no one is completely evil, and no one is completely saint. They stay between angel and devil.

Do not judge people—but try to understand and forgive, for their destiny are in your hand not, but in God’s.

Keep your pride in, cast your arrogance away. Never look down on others, for you perhaps better than while live, yet more sorrowful after death.

mari bersedekah dengan bijak

sekadar berbagi cerita..

sebenarnya cerita ini sudah terjadi lumayan lama.. bisa dibilang beberapa bulan yang lalu.. namun karena kebetulan sekarang sedang memasuki bulan Ramadhan, saya rasa cerita ini bisa menjadi bahan renungan buat kita semua..

waktu itu hari udah malem, mungkin sekitar jam 21.30an lah.. saya lagi nunggu angkot di bilangan pasteur [deket griya pasteur] sambil ngeliat jam, karena orangtua udah menyuruh saya untuk segera pulang ke rumah
ga berapa lama nunggu angkot, saya melihat dari arah kejauhan seorang bapak-bapak [umur 40an, kurang lebih] berjalan tergopoh-gopoh sambil membawa bungkusan besar di punggungnya, sambil bawa tas gendong juga..dari arah jalannya dia bakal melewati tempat saya berdiri, maka saya agak mundur sedikit biar bisa ngasih jalan buat si bapak..

pada saat berpapasan, tiba2 si bapak berhenti, dan bungkusannya ditaroh di deket kakinya, saat itu saya perhatikan kalo muka si bapak agak pucat [mungkin kecapean karena jalan jauh, pikir saya]
ga diduga, si bapak memanggil saya
si Bapak [B]: Dik, bisa minta tolong Dik?
saya [S]: iya pak, ada apa?
B: saya jualan sandal dik, bisa tolong beli sandal saya satu dik?
*saya perhatikan tangannya megang sandal, kaya sandal2 yg biasa dijual di salman seharga 15ribuan..
ga mahal kok dik, 15ribu saja.. tolong beli satu dik..
S: *sambil melirik kaki yang memakai sendal yang mirip dengan yang ditawarkan si bapak, dan sudah cukup usang
sebentar pak..
saya membuka dompet, dan mendapati uang saya tinggal 5ribu, lantas merogoh saku, dan mendapati uang saya di saku tinggal 1500
maaf pak, saya lagi ga ada uang [hu,, bener2 lagi ga ada uang]
B: tolong dik, saya jualan sendal belum laku satu pun dari pagi.. saya belum makan sama sekali.. *mukanya pucat banget
S: wah, maaf pak, saya lagi bener2 ga ada uang.. 😦
B: oh, kalo gitu ya udah. *terdiam* adik ada minum ga? saya belum minum sejak tadi..
S: *inget kalo botol minum saya udah ga ada isinya* ngga ada pak, maaf
*terus saya celingak-celinguk nyari warung, ga nemu
maaf banget pak,, ini saya ada uang, mungkin bisa buat beli minum bapak atau beli gorengan.. *sambil ngasih uang 1500
[sebel, kenapa uang saya tinggal 5000an + 1500an? kan ongkos angkot 2000an.. :(]
B: *nerima uang dengan muka senang* makasih banyak Dik.. makasih..
S: oiya pak, ga apa apa..oiya, rumah bapak di mana?
B: di cimahi dik.. *wow, jauh [saya terkejut]
dan si bapak pun berlalu pergi, sambil membawa kembali barang dagangannya yg masih belum laku, dan berjalan entah berapa kilometer lagi
*saya hanya bisa berdo’a, semoga si bapak dilancarkan rezekinya..

dari pengalaman saya dengan si bapak ini, saya berpikir, kalo sebenernya si bapak ini *menurut saya* lebih pantas untuk mendapatkan sedekah dibandingkan dengan orang yang berprofesi sebagai tukang ’emis’ dan ‘amen’ *alias pengemis dan pengamen
kenapa? karena dibandingkan dengan orang2 tsb yang sekadar menengadahkan tangannya untuk makan dan *biasanya* ngerokok, bapak yg saya temui bahkan dalam keadaan di mana seharusnya dia boleh meminta-minta, dia tidak melakukannya, *hanya minta air minum* dan masih tetap berusaha mencari rezeki dengan berdagang!!

setelah bertemu dengan si bapak, saya jadi semakin yakin, bahwa sesungguhnya orang2 fakir dan miskin ada banyak di luar sana, namun mereka bukanlah orang2 yang sekadar menengadahkan tangannya untuk berprofesi sebagai tukang ’emis’ dan ‘amen’, melainkan mereka yang masih bersusah payah meneteskan keringat untuk mencari rezeki dengan cara yang baik
*dan saya juga menyesal, kenapa saya tidak memiliki uang lebih saat itu.. 😦

bahkan dalam Al-Qur’an disebutkan: Continue reading